Lo nggak bisa ngalahin orang yang lagi having fun.
Bukan karena dia paling jago. Bukan juga karena dia paling pintar.
Tapi karena dia nggak kehabisan energi buat hal-hal receh: takut salah, mikirin omongan orang, sibuk bandingin diri.
Mereka bangun pagi dengan rasa penasaran, bukan tekanan. Mereka mungkin sering kerja lebih lama dari orang lain, tapi bukan karena dipaksa. Dan kalau jatuh bisa bangkit dengan cepat, karena dia nggak anggap identitasnya terluka. Toh ini cuma permainan.
Fun is a cheat code.
Sesuatu yang membuat effort kerasa ringan. Bikin konsistensi terjadi tanpa dipaksa. Bikin progress compounds.
Kalau lo sering ngerasa capek, belum tentu yang salah adalah disiplin atau skill.
You might just be playing the wrong game.
Tapi Ada Satu Hal yang Sering Orang Lewatkan
Saat gue mention soal ini di twitter, ada beberapa yang skeptis. Yang intinya:
"Enak banget bilang 'have fun'. Gue lagi struggling, gimana mau fun?"
Dan honestly? Mereka bener.
Kebanyakan orang (termasuk gue) nggak punya motivasi intrinsik dari awal. Nggak langsung excited waktu pertama kali buka code editor. Nggak langsung ngerasa "ini gue banget!" waktu belajar, misalnya, programming.
Advice "just have fun" itu kosong kalau lo nggak tau gimana caranya sampai ke state itu.
Karena kenyataannya: fun itu bukan starting point. Fun itu bagian dari hasil.
Gue Dulu Takut Sama Komputer
Ini bukan lebay. Beneran.
Waktu SMP, gue remedial ujian praktik TIK. Dua kali. Dari satu angkatan lebih dari 300 siswa, cuma dua orang yang remedial dua kali. Dan gue salah satunya.
Confidence gue turun drastis. Gue sempet benci sama komputer. Setiap hari lewat lab komputer di pintu gerbang sekolah, dan setiap hari itu jadi reminder betapa payahnya gue.
Long story short, ada turning point yang bikin gue akhirnya malah suka banget sama bidang ini. Dan alhamdulillah jadi rewarding career path juga. Kalau lo mau baca cerita lengkapnya, gue tulis di sini.
Tapi point-nya bukan cerita heroik tentang "dari nol jadi hero". Masih banyak banget juga yang pengen gue pelajari.
Point-nya adalah: gue juga nggak mulai dengan fun. Gue mulai dengan takut, malu, dan ngerasa bodoh.
Fun datang belakangan. Jauh belakangan.
Turning Point Kedua: Learn Python The Hard Way
Fast forward ke masa kuliah.
Waktu itu gue udah lebih enjoy main komputer. Udah bisa bikin website sederhana, ikut Olimpiade Informatika, dan udah pernah ngulik ini-itu. Tapi tetep ngerasa belum paham beneran.
Sampai gue ketemu buku "Learn Python The Hard Way" karya Zed Shaw. Dan memutuskan untuk mulai dari awal lagi.
Bukunya simpel. Nggak ada gambar lucu-lucu. Nggak ada "fun project" yang Instagram-worthy. Cuma exercises. Banyak. Repetitif. Kadang boring.
Tapi ada satu hal yang buku itu paksa gue lakuin: ngetik ulang setiap baris code, tanpa copy-paste.
Awalnya gue mikir ini buang-buang waktu. Kenapa harus ngetik ulang kalau bisa copy?
Tapi setelah beberapa minggu, sesuatu berubah.
Gue mulai ngerti kenapa code itu ditulis seperti itu. Gue mulai bisa prediksi error sebelum running. Gue mulai punya intuisi.
Dan yang lebih penting: gue mulai ngerasa confident.
Bukan confident karena hafal syntax. Tapi confident karena gue paham fundamentals-nya. Dan dari confidence itu, muncul keberanian untuk explore lebih jauh. Bikin project sendiri. Experiment. Fail. Try again.
Somehow, proses yang awalnya kerasa "kerja keras" mulai kerasa... fun?
Framework yang Gue Sadari Setelah 9 Tahun
Sekarang, setelah 9 tahun di tech industry baik di dalam dan luar negeri, gue bisa lihat pattern-nya lebih jelas.
Orang yang "having fun" dalam bidang programming biasanya nggak mulai dari fun. Mereka melewati journey yang mirip-mirip:
1. Trust the process dulu
Di awal, lo belum tau apakah ini worth it. Lo belum tau apakah lo bakal suka. Dan itu okay. Yang penting: commit untuk jalan dulu, walau belum keliatan ujungnya.
2. Bangun fundamentals
Ini bagian yang "boring". Belajar gimana variable bekerja. Gimana function dipanggil. Gimana data mengalir. Nggak sexy, nggak bisa di-post di LinkedIn. Tapi ini yang bikin lo punya fondasi.
3. Dapetin feedback dari dunia nyata
Bikin sesuatu. Apa aja. Deploy. Share. Dapat feedback, entah itu error message, user complaint, atau "wah keren!". Feedback ini yang bikin sensasi learning makin real, bukan cuma teori di kepala.
4. Aha moment datang
Ada titik dimana sesuatu "click". Lo tiba-tiba ngerti kenapa sesuatu bekerja seperti itu. Lo bisa solve problem yang kemarin bikin lo stuck berjam-jam. Momen ini nggak bisa dipaksa, tapi dia pasti datang kalau lo udah lewatin step 1-3.
5. Fun unlocks
Setelah aha moment, sesuatu berubah. Belajar hal baru jadi lebih gampang karena lo punya fondasi. Challenges jadi exciting, nggak lagi threatening. Lo mulai lebih banyak penasaran instead of anxious.
Dan di titik ini, lo jadi "orang yang having fun".
Dan nggak tertarik lagi untuk bandingin dengan perjalanan orang lain.
Kenapa Ini Lebih Relevan Sekarang
Kita hidup di era dimana AI tools makin canggih setiap bulan.
Cursor, Claude, ChatGPT. Semua bisa bantu generate code dalam hitungan detik. Banyak orang mulai tanya: "Ngapain belajar coding kalau AI bisa lakuin?"
Gue punya jawaban lebih detil untuk pertanyaan ini di chapter 1 buku Panduan Memulai Coding Career.
Tapi gue akan kasih analogi sederhana disini:
AI tools itu kayak gergaji mesin.
Kalau lo udah paham fundamentals woodworking (tau grain kayu, tau teknik potong, tau safety measures), gergaji mesin adalah productivity booster yang luar biasa. Lo bisa kerja 10x lebih cepat.
Tapi kalau lo nggak paham fundamentals? Gergaji mesin bisa bikin lo ngerusak kayu, atau lebih parah lagi, motong tangan lo sendiri.
Sama dengan AI coding tools.
Kalau lo paham fundamentals programming (gimana code bekerja, gimana debugging, system design), AI jadi superpower. Lo bisa build things yang dulu butuh tim banyak.
Tapi kalau lo nggak paham fundamentals? Lo bakal copy-paste code yang lo nggak ngerti, debug error yang lo nggak tau asalnya, dan build sesuatu yang fragile.
Coding skills sekarang lebih rewarding dari sebelumnya. Bukan karena AI menggantikan programmer, tapi karena AI multiply kemampuan programmer yang punya fondasi kuat.
It's a force multiplier on existing velocity, not an equalizer.
Playing the Right Game
Balik ke awal.
Lo nggak bisa ngalahin orang yang lagi having fun.
Sekarang lo tau: fun itu bukan privilege orang-orang yang "emang dari sananya suka bidang sulit". Fun itu hasil dari journey yang bisa lo tempuh juga.
Trust the process. Bangun fundamentals. Dapetin feedback. Tunggu aha moment. Dan fun akan unlock dengan sendirinya.
Kalau lo sekarang lagi di fase "belum fun", masih ngerasa struggling, overwhelmed, ngerasa ketinggalan... itu normal. Gue juga pernah di situ. Dua kali remedial TIK, remember?
Yang penting: jangan berhenti di tengah jalan. Dan pastikan lo belajar hal yang bener, bukan cuma chase tutorial terbaru tanpa fondasi.
Penutup
Ini salah satu alasan Panduan Coding dibuat.
Bukan untuk jadi shortcut "jago dalam seminggu". Tapi sistem untuk bangun fondasi yang solid, supaya lo bisa leverage tools modern dan bikin journey coding lo jadi genuinely fun and rewarding.
Dan di titik itu, lo jadi susah dikalahkan. Karena kompetisi lo hanya dengan diri lo sendiri. Dan itu udah lebih dari cukup.

